Cara Uji Paired Sample T-Test di SPSS dan Cara Baca Output Lengkap
Cara Uji Paired Sample T-Test di SPSS dan Cara Baca Output-nya

RingkasanPaired Sample T-Test adalah uji statistik parametrik yang digunakan untuk membandingkan rata-rata dua pengukuran yang berasal dari subjek yang sama, misalnya nilai sebelum dan sesudah perlakuan (pretest–posttest). Di SPSS, analisis ini dilakukan melalui menu Analyze → Compare Means → Paired-Samples T Test. Sebelum melakukan uji, pastikan data memenuhi asumsi utama, terutama distribusi normal pada selisih skor. Output SPSS terdiri atas tiga tabel utama, yaitu Paired Samples Statistics, Paired Samples Correlations, dan Paired Samples Test. Nilai Sig. (2-tailed) digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan. Artikel ini membahas konsep, syarat, langkah analisis, cara membaca output, hingga contoh penulisan hasil penelitian.
Pernah Bingung Melihat Output SPSS?
Data penelitian sudah selesai dikumpulkan. Anda telah memasukkan semua data ke SPSS, lalu menjalankan Paired Sample T-Test.
Di sana ada nilai Mean, Std. Deviation, Correlation, t, df, hingga Sig. (2-tailed).
Lalu muncul pertanyaan:
- Nilai mana yang harus dilihat terlebih dahulu?
- Apakah hasil penelitian saya signifikan?
- Mengapa ada tiga tabel?
- Bagaimana cara menuliskan hasilnya di Bab IV?
- Apa arti setiap angka dalam output tersebut?
Jika Anda pernah mengalami kebingungan tersebut, Anda tidak sendirian. Banyak mahasiswa, peneliti, bahkan pengguna SPSS yang sudah cukup berpengalaman masih keliru dalam menginterpretasikan hasil Paired Sample T-Test.
Artikel ini dirancang agar Anda tidak hanya mampu menjalankan uji di SPSS, tetapi juga memahami alasan di balik setiap langkah dan setiap angka yang muncul pada output.
Apa Itu Paired Sample T-Test?
| Responden | Sebelum | Sesudah |
|---|---|---|
| 1 | 62 | 75 |
| 2 | 70 | 82 |
| 3 | 68 | 80 |
| 4 | 71 | 83 |
| 5 | 66 | 77 |
- Pengukuran pertama dilakukan sebelum perlakuan.
- Pengukuran kedua dilakukan setelah perlakuan.
- Kedua nilai berasal dari orang yang sama.
Intinya, Paired Sample T-Test tidak membandingkan dua kelompok yang berbeda, tetapi membandingkan dua kondisi dari kelompok yang sama.
Featured Snippet
Apa itu Paired Sample T-Test?
Paired Sample T-Test adalah uji statistik parametrik yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara dua pengukuran yang berasal dari subjek yang sama, misalnya nilai pretest dan posttest, tekanan darah sebelum dan sesudah terapi, atau berat badan sebelum dan sesudah program diet. Uji ini hanya digunakan jika data memenuhi asumsi parametrik, terutama distribusi normal pada selisih skor.
Kapan Menggunakan Paired Sample T-Test?
Kesalahan paling sering dilakukan mahasiswa adalah menggunakan jenis uji yang tidak sesuai.
Tidak semua penelitian cocok menggunakan Paired Sample T-Test.
Gunakan uji ini apabila memenuhi kondisi berikut.
1. Data Berasal dari Responden yang Sama
Contoh:
✔ Nilai matematika sebelum pelatihan
dibandingkan dengan
✔ Nilai matematika setelah pelatihan
Subjeknya tetap sama.
2. Pengukuran Dilakukan Dua Kali
Misalnya:
- Sebelum terapi
- Sesudah terapi
- Sebelum vaksinasi
- Setelah vaksinasi
- Sebelum pelatihan
- Setelah pelatihan
3. Data Berupa Angka (Numerik)
Contoh:
- Berat badan
- Tinggi badan
- Tekanan darah
- Nilai ujian
- Kadar gula darah
- Skor pengetahuan
- Skor kepuasan
- Waktu penyelesaian tugas
Data kategorik seperti laki-laki/perempuan, ya/tidak, atau setuju/tidak setuju tidak dapat dianalisis menggunakan Paired Sample T-Test.
4. Selisih Skor Berdistribusi Normal
Hal yang sering disalahpahami adalah bahwa normalitas yang diperiksa bukan masing-masing variabel secara terpisah, melainkan selisih antara dua pengukuran.
Sebagai contoh:
| Sebelum | Sesudah | Selisih |
|---|---|---|
| 60 | 72 | 12 |
| 65 | 74 | 9 |
| 70 | 80 | 10 |
| 68 | 78 | 10 |
Normalitas diuji pada kolom Selisih, bukan pada kolom "Sebelum" atau "Sesudah" secara terpisah.
Contoh Penelitian yang Menggunakan Paired Sample T-Test
Berikut beberapa contoh penelitian yang sangat sering menggunakan uji ini.
| Bidang | Contoh Penelitian |
|---|---|
| Pendidikan | Nilai pretest dan posttest siswa |
| Kesehatan | Tekanan darah sebelum dan sesudah terapi |
| Gizi | Berat badan sebelum dan sesudah diet |
| Psikologi | Tingkat stres sebelum dan sesudah konseling |
| Keperawatan | Tingkat nyeri sebelum dan sesudah tindakan |
| Kesehatan Masyarakat | Pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan |
| Farmasi | Kadar kolesterol sebelum dan sesudah pemberian obat |
| Manajemen | Produktivitas karyawan sebelum dan sesudah pelatihan |
Kapan Tidak Boleh Menggunakan Paired Sample T-Test?
Tidak semua penelitian dengan dua kelompok dapat dianalisis menggunakan uji ini.
Berikut beberapa contoh yang tidak sesuai.
| Kasus | Boleh? | Uji yang Tepat |
|---|---|---|
| Nilai kelas A vs kelas B | ❌ | Independent Sample T-Test |
| Laki-laki vs perempuan | ❌ | Independent Sample T-Test |
| Tiga kelompok perlakuan | ❌ | One Way ANOVA |
| Sebelum dan sesudah pada orang yang sama | ✅ | Paired Sample T-Test |
| Sebelum dan sesudah tetapi data tidak normal | ❌ | Wilcoxon Signed Rank Test |
Perbedaan Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test
Banyak pengguna SPSS tertukar antara kedua uji ini karena sama-sama menggunakan kata "T-Test". Padahal, tujuan dan struktur datanya berbeda.
| Aspek | Paired Sample T-Test | Independent Sample T-Test |
|---|---|---|
| Jumlah kelompok | Satu kelompok | Dua kelompok |
| Pengukuran | Dua kali | Satu kali |
| Responden | Sama | Berbeda |
| Contoh | Sebelum–Sesudah | Kelas A vs Kelas B |
| Hubungan data | Berpasangan | Tidak berpasangan |
| Tujuan | Mengukur perubahan | Membandingkan dua kelompok |
Analogi Sederhana
Bayangkan Anda ingin mengetahui apakah seseorang menjadi lebih cepat berlari setelah mengikuti program latihan selama satu bulan. Ada dua cara yang mungkin dilakukan.
Situasi Pertama
Anda mengukur waktu lari Andi sebelum latihan.
Kemudian satu bulan kemudian Anda mengukur Andi lagi.
Karena yang dibandingkan adalah orang yang sama pada dua waktu berbeda, gunakan Paired Sample T-Test.
Situasi Kedua
Anda membandingkan waktu lari Andi dengan Budi.
Keduanya adalah orang yang berbeda.
Dalam kondisi seperti ini, gunakan Independent Sample T-Test.
Hipotesis pada Paired Sample T-Test
Sebelum melakukan analisis, tentukan hipotesis penelitian.
Hipotesis Nol (H₀)
Tidak terdapat perbedaan rata-rata antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua.
Secara sederhana:
Perlakuan tidak memberikan perubahan yang signifikan.
Hipotesis Alternatif (H₁)
Terdapat perbedaan rata-rata antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua.
Artinya:
Perlakuan memberikan perubahan yang signifikan.
Contoh Hipotesis Penelitian
Misalnya sebuah penelitian ingin mengetahui efektivitas penyuluhan gizi terhadap pengetahuan ibu hamil.
Hipotesisnya dapat ditulis sebagai berikut.
H₀: Tidak terdapat perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan gizi.
H₁: Terdapat perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan gizi.
Hipotesis inilah yang nantinya akan diuji menggunakan nilai Sig. (2-tailed) pada output SPSS.
Syarat Melakukan Paired Sample T-Test
Sebelum membuka SPSS, pastikan data memenuhi asumsi berikut.
Checklist Asumsi
- ☑ Data berupa angka (interval atau rasio).
- ☑ Dua pengukuran berasal dari responden yang sama.
- ☑ Setiap responden memiliki pasangan data yang lengkap.
- ☑ Tidak terdapat kesalahan input data.
- ☑ Selisih skor berdistribusi normal.
- ☑ Tidak terdapat pencilan (outlier) ekstrem yang dapat memengaruhi hasil analisis.
Tips praktis: Banyak peneliti hanya memeriksa normalitas masing-masing variabel. Praktik yang lebih tepat untuk Paired Sample T-Test adalah memeriksa normalitas pada selisih skor (difference scores) karena analisis ini didasarkan pada distribusi perbedaan antar-pengukuran.
Mengapa Harus Menguji Normalitas Terlebih Dahulu?
Paired Sample T-Test termasuk dalam kelompok uji parametrik. Salah satu asumsi pentingnya adalah bahwa selisih nilai antar-pengukuran mengikuti distribusi normal.
Jika asumsi ini tidak terpenuhi, hasil uji t dapat menjadi kurang andal, terutama pada ukuran sampel yang kecil.
Sebagai alternatif, peneliti biasanya menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test, yaitu uji nonparametrik yang tidak mensyaratkan distribusi normal pada selisih skor.
Menyiapkan Data Sebelum Uji Paired Sample T-Test di SPSS
Sebelum menjalankan analisis, pastikan data sudah tersusun dengan benar. Kesalahan pada tahap ini sering menjadi penyebab output SPSS tidak sesuai harapan atau bahkan muncul pesan error.
Struktur data yang benar untuk Paired Sample T-Test sangat sederhana. Setiap responden hanya memiliki satu baris data, sedangkan setiap waktu pengukuran memiliki kolom tersendiri.
Contoh:
| ID Responden | Pretest | Posttest |
|---|---|---|
| 1 | 60 | 72 |
| 2 | 65 | 75 |
| 3 | 58 | 70 |
| 4 | 72 | 83 |
| 5 | 69 | 80 |
| 6 | 63 | 74 |
| 7 | 71 | 84 |
| 8 | 66 | 78 |
| 9 | 62 | 73 |
| 10 | 68 | 81 |
Perhatikan bahwa:
- Setiap responden hanya muncul satu kali.
- Nilai pretest dan posttest berada pada baris yang sama.
- Tidak ada data yang tertukar antarresponden.
Tips: Gunakan nama variabel yang singkat namun jelas, misalnya
PretestdanPosttest. Hindari penggunaan spasi atau karakter khusus pada nama variabel di SPSS.
Mengatur Variable View di SPSS
Sebelum mengisi data pada Data View, Anda perlu mendefinisikan variabel pada Variable View.
Berikut contoh pengaturannya.
| Properti | Pretest | Posttest |
|---|---|---|
| Name | Pretest | Posttest |
| Type | Numeric | Numeric |
| Width | 8 | 8 |
| Decimals | 0 atau 2 | 0 atau 2 |
| Label | Nilai Sebelum Perlakuan | Nilai Sesudah Perlakuan |
| Measure | Scale | Scale |
Jika data berupa skor dengan angka desimal, atur jumlah Decimals sesuai kebutuhan. Jika data berupa nilai bulat, cukup gunakan 0 desimal agar output lebih rapi.
Contoh Kasus Penelitian
Agar lebih mudah dipahami, gunakan ilustrasi berikut.
Studi Kasus
Seorang peneliti ingin mengetahui apakah penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil.
Sebanyak 30 responden mengikuti pretest sebelum penyuluhan dan posttest setelah penyuluhan selesai.
Variabel yang dianalisis:
- Pretest = Skor pengetahuan sebelum penyuluhan.
- Posttest = Skor pengetahuan sesudah penyuluhan.
Pertanyaan penelitian:
Apakah terdapat perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan?
Karena pengukuran dilakukan terhadap responden yang sama pada dua waktu berbeda, maka metode analisis yang tepat adalah Paired Sample T-Test.
Langkah Melakukan Paired Sample T-Test di SPSS
Setelah data selesai diinput, Anda dapat menjalankan analisis melalui menu SPSS berikut.
Langkah 1
Klik menu:
Analyze
↓
Compare Means
↓
Paired-Samples T Test
Akan muncul kotak dialog Paired-Samples T Test.
Langkah 2
Pilih variabel:
- Pretest
- Posttest
Kemudian pindahkan keduanya ke kotak Paired Variables.
Urutan variabel penting diperhatikan.
Contoh yang benar:
Pretest → Posttest
Artinya SPSS akan menghitung selisih berdasarkan urutan tersebut.
Jika urutannya dibalik, hasil Mean Difference akan berubah menjadi bernilai negatif atau positif sesuai arah pengurangan. Namun, keputusan signifikansi tetap sama karena nilai Sig. (2-tailed) tidak dipengaruhi oleh urutan pasangan.
Langkah 3
Klik tombol Options.
Pada bagian ini, Anda dapat mengatur:
- Confidence Interval = 95%
- Exclude cases analysis by analysis (umumnya digunakan sebagai pengaturan bawaan)
Nilai 95% merupakan tingkat kepercayaan yang paling umum digunakan dalam penelitian.
Langkah 4
Klik Continue.
Langkah 5
Klik OK.
SPSS akan memproses data dan menghasilkan tiga tabel utama.
- Paired Samples Statistics
- Paired Samples Correlations
- Paired Samples Test
Ketiga tabel ini memiliki fungsi yang berbeda. Memahami perbedaannya akan membantu Anda menghindari kesalahan interpretasi.
Gambaran Output SPSS
Setelah analisis selesai, Anda akan melihat tiga tabel utama.
| Nama Tabel | Fungsi |
|---|---|
| Paired Samples Statistics | Menampilkan statistik deskriptif masing-masing pengukuran |
| Paired Samples Correlations | Menunjukkan hubungan (korelasi) antara dua pengukuran |
| Paired Samples Test | Menampilkan hasil uji t yang digunakan untuk mengambil keputusan hipotesis |
Kesalahan yang sering terjadi adalah langsung melihat tabel pertama dan menganggap hasil penelitian sudah selesai. Padahal, keputusan menerima atau menolak hipotesis berasal dari tabel Paired Samples Test.
Output 1: Paired Samples Statistics
Tabel pertama biasanya tampak seperti berikut.
| Mean | N | Std. Deviation | Std. Error Mean | |
|---|---|---|---|---|
| Pretest | 67,20 | 30 | 8,14 | 1,49 |
| Posttest | 78,63 | 30 | 7,56 | 1,38 |
Mari kita pahami arti setiap kolom.
Mean
Kolom Mean menunjukkan rata-rata setiap pengukuran.
Pada contoh di atas:
- Rata-rata sebelum perlakuan = 67,20
- Rata-rata sesudah perlakuan = 78,63
Secara deskriptif terlihat adanya peningkatan sekitar 11 poin.
Namun, peningkatan rata-rata saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya pengaruh. Kita masih perlu melihat apakah perbedaan tersebut signifikan secara statistik.
N
Kolom N menunjukkan jumlah responden yang dianalisis.
Pada contoh:
N = 30
Artinya seluruh responden memiliki data lengkap untuk pretest dan posttest.
Jika terdapat data yang hilang (missing value), jumlah N dapat berkurang.
Std. Deviation
Standar deviasi menggambarkan tingkat penyebaran data terhadap nilai rata-rata.
Interpretasinya:
- Nilai kecil → skor responden relatif seragam.
- Nilai besar → skor responden lebih bervariasi.
Pada contoh:
- SD Pretest = 8,14
- SD Posttest = 7,56
Hal ini menunjukkan bahwa variasi skor setelah perlakuan sedikit lebih kecil dibandingkan sebelum perlakuan.
Std. Error Mean
Nilai ini menunjukkan tingkat ketelitian estimasi rata-rata sampel terhadap rata-rata populasi.
Semakin kecil nilainya, semakin presisi estimasi rata-rata yang diperoleh dari sampel.
Dalam praktik penelitian, kolom ini jarang menjadi fokus utama pembahasan, tetapi tetap berguna untuk memahami kualitas estimasi statistik.
Cara Menafsirkan Tabel Paired Samples Statistics
Dari tabel pertama, kita hanya dapat menyimpulkan secara deskriptif.
Contohnya:
Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 67,20 menjadi 78,63 setelah penyuluhan.
Sampai tahap ini belum boleh menyatakan bahwa peningkatan tersebut signifikan.
Kesimpulan mengenai signifikansi baru dapat dibuat setelah melihat tabel Paired Samples Test.
Output 2: Paired Samples Correlations
Tabel kedua biasanya berbentuk seperti berikut.
| N | Correlation | Sig. | |
|---|---|---|---|
| Pair 1 | 30 | 0,81 | 0,000 |
Banyak mahasiswa mengira tabel ini menentukan diterima atau ditolaknya hipotesis penelitian. Anggapan tersebut tidak tepat.
Tabel Paired Samples Correlations hanya menunjukkan hubungan antara dua pengukuran, bukan hasil uji perbedaan.
Correlation
Nilai korelasi menunjukkan seberapa kuat hubungan antara skor pretest dan posttest.
Sebagai gambaran umum:
| Nilai Korelasi | Interpretasi |
|---|---|
| 0,00–0,19 | Sangat lemah |
| 0,20–0,39 | Lemah |
| 0,40–0,59 | Sedang |
| 0,60–0,79 | Kuat |
| 0,80–1,00 | Sangat kuat |
Pada contoh:
Correlation = 0,81
Artinya terdapat hubungan yang sangat kuat antara skor sebelum dan sesudah perlakuan. Responden dengan nilai pretest tinggi cenderung juga memiliki nilai posttest yang tinggi.
Perlu diingat, hubungan yang kuat tidak selalu berarti terdapat perbedaan yang signifikan.
Sig. pada Tabel Korelasi
Kolom Sig. di tabel korelasi hanya menunjukkan apakah hubungan tersebut signifikan.
Nilai ini bukan dasar untuk menerima atau menolak hipotesis Paired Sample T-Test.
Kesalahan membaca kolom ini merupakan salah satu kekeliruan yang paling sering ditemukan dalam skripsi dan laporan penelitian.
Kesalahan Umum
❌ Melihat nilai Sig. pada tabel Paired Samples Correlations lalu menyimpulkan perlakuan berpengaruh.
✔ Yang benar, keputusan mengenai ada atau tidaknya perbedaan rata-rata harus diambil dari tabel Paired Samples Test, khususnya nilai Sig. (2-tailed).
Paired Samples Test (Tabel yang Paling Penting)
Setelah memahami dua tabel sebelumnya, kini kita masuk ke bagian inti dari analisis, yaitu Paired Samples Test.
Inilah tabel yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian:
Apakah terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan?
Sebagian besar keputusan dalam skripsi, tesis, maupun artikel ilmiah diambil berdasarkan tabel ini.
Contoh output SPSS:
| Paired Differences | Mean | Std. Deviation | Std. Error Mean | 95% Confidence Interval | t | df | Sig. (2-tailed) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pretest - Posttest | -11,43 | 5,82 | 1,06 | -13,60 s.d. -9,26 | -10,79 | 29 | 0,000 |
Mari kita bahas satu per satu.
Mean Difference
Kolom Mean pada tabel Paired Samples Test menunjukkan rata-rata selisih antara dua pengukuran.
Pada contoh:
Pretest – Posttest = -11,43
Artinya rata-rata nilai setelah perlakuan 11,43 poin lebih tinggi dibandingkan sebelum perlakuan.
Mengapa bernilai negatif?
Karena urutan pasangan yang dimasukkan ke SPSS adalah:
Pretest → Posttest
SPSS menghitung:
Pretest - Posttest
Sehingga jika nilai posttest lebih besar, hasil selisih menjadi negatif.
Apakah Nilai Negatif Berarti Buruk?
Tidak.
Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang paling sering terjadi.
Nilai negatif tidak menunjukkan hasil penelitian gagal.
Yang menentukan adalah arah pengurangan.
Sebagai ilustrasi:
| Pretest | Posttest | Selisih |
|---|---|---|
| 70 | 80 | -10 |
| 65 | 75 | -10 |
| 60 | 72 | -12 |
Seluruh selisih bernilai negatif karena skor sesudah perlakuan lebih tinggi.
Sebaliknya, jika urutan variabel dibalik menjadi:
Posttest → Pretest
maka Mean Difference akan menjadi positif.
Namun keputusan statistik tetap sama.
Standard Deviation of Difference
Kolom ini menunjukkan variasi dari selisih skor, bukan variasi skor pretest atau posttest.
Semakin kecil nilainya berarti perubahan yang dialami responden relatif seragam.
Sebaliknya, nilai yang besar menunjukkan perubahan antarresponden sangat bervariasi.
Standard Error Mean
Kolom ini menggambarkan ketelitian estimasi rata-rata selisih.
Dalam praktik penelitian, nilai ini jarang dibahas secara khusus, tetapi digunakan SPSS dalam perhitungan statistik t dan interval kepercayaan.
95% Confidence Interval of the Difference
Contoh output:
| Lower | Upper |
|---|---|
| -13,60 | -9,26 |
Interval kepercayaan menunjukkan rentang yang diperkirakan memuat nilai selisih rata-rata populasi.
Interpretasi sederhana:
Dengan tingkat kepercayaan 95%, rata-rata perubahan diperkirakan berada antara -13,60 hingga -9,26.
Hal penting yang perlu diperhatikan:
- Jika interval tidak melewati angka 0, hasil biasanya signifikan.
- Jika interval mencakup angka 0, kemungkinan besar hasil tidak signifikan.
Meskipun demikian, dalam laporan penelitian umumnya keputusan tetap didasarkan pada nilai Sig. (2-tailed).
Nilai t
Kolom t merupakan statistik uji yang dihitung SPSS.
Pada contoh:
t = -10,79
Semakin besar nilai absolut t, semakin besar perbedaan relatif terhadap variasi data.
Namun dalam praktik modern, peneliti lebih sering menggunakan nilai Sig. (2-tailed) daripada membandingkan nilai t dengan t tabel.
Degrees of Freedom (df)
Nilai df menunjukkan derajat kebebasan.
Rumusnya:
df = n − 1
Jika jumlah responden:
30
maka:
df = 29
Nilai ini digunakan SPSS untuk menghitung probabilitas (p-value).
Sig. (2-tailed): Kolom yang Menentukan Keputusan
Inilah kolom yang paling penting.
Misalnya output menunjukkan:
Sig. (2-tailed) = 0,000
Perlu dipahami bahwa:
SPSS tidak pernah menghasilkan p-value = 0.
Angka 0,000 berarti nilai tersebut lebih kecil dari 0,001, lalu dibulatkan menjadi tiga angka di belakang koma.
Aturan Pengambilan Keputusan
Gunakan taraf signifikansi (α) sebesar 0,05, kecuali penelitian Anda menetapkan nilai lain.
| Nilai Sig. | Keputusan |
|---|---|
| ≤ 0,05 | Tolak H₀ |
| > 0,05 | Gagal menolak H₀ |
Contoh 1
Sig. = 0,000
Karena:
0,000 < 0,05
Maka:
✅ Tolak H₀
Artinya terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara pretest dan posttest.
Contoh 2
Sig. = 0,218
Karena:
0,218 > 0,05
Maka:
H₀ tidak ditolak.
Artinya tidak terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan.
Cara Menarik Kesimpulan
Banyak mahasiswa langsung menulis:
"H₁ diterima."
Secara statistik, istilah yang lebih tepat adalah:
H₀ ditolak atau H₀ gagal ditolak.
Alasannya, uji hipotesis secara formal mengevaluasi hipotesis nol (H₀), bukan "membuktikan" H₁.
Namun, pada banyak panduan kampus di Indonesia masih dijumpai istilah "H₁ diterima". Ikuti pedoman institusi Anda bila ada aturan khusus, tetapi untuk artikel ilmiah internasional disarankan menggunakan istilah menolak atau gagal menolak H₀.
Contoh Interpretasi Output
Misalkan output SPSS menunjukkan:
| Nilai | Hasil |
|---|---|
| Mean Pretest | 67,20 |
| Mean Posttest | 78,63 |
| Mean Difference | -11,43 |
| t | -10,79 |
| df | 29 |
| Sig. | 0,000 |
Interpretasi:
Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 67,20 menjadi 78,63 setelah penyuluhan. Hasil uji Paired Sample T-Test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) = 0,000 (<0,05) sehingga terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. Dengan demikian, penyuluhan yang diberikan berkaitan dengan peningkatan skor pengetahuan pada responden dalam penelitian ini.
Contoh Penulisan Hasil di Bab IV Skripsi
Berikut contoh narasi yang dapat disesuaikan dengan data penelitian Anda.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan Paired Sample T-Test, diketahui bahwa rata-rata nilai pretest responden sebesar 67,20, sedangkan rata-rata nilai posttest sebesar 78,63. Hasil pengujian menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000, yang lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05. Oleh karena itu, H₀ ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah penyuluhan. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan berkaitan dengan peningkatan skor pengetahuan responden.
Catatan penting: Jika desain penelitian bukan eksperimen murni atau terdapat faktor lain yang tidak dikendalikan, gunakan frasa seperti "berkaitan dengan peningkatan" daripada langsung menyatakan hubungan sebab-akibat.
Cara Melaporkan Hasil Sesuai Gaya APA
Dalam penulisan ilmiah berstandar APA, hasil uji t umumnya dilaporkan dengan menyebutkan statistik uji, derajat kebebasan, dan p-value.
Contoh:
Hasil paired-samples t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest, t(29) = -10,79, p < 0,001.
Jika memungkinkan, tambahkan:
- rata-rata (M),
- standar deviasi (SD),
- serta ukuran efek (effect size).
Contoh yang lebih lengkap:
Nilai rata-rata meningkat dari M = 67,20 (SD = 8,14) menjadi M = 78,63 (SD = 7,56). Hasil paired-samples t-test menunjukkan bahwa peningkatan tersebut signifikan secara statistik, t(29) = -10,79, p < 0,001.
Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan
Berikut beberapa kesalahan yang sering ditemukan dalam laporan penelitian.
| Kesalahan | Cara yang Benar |
|---|---|
| Melihat tabel Statistics untuk menentukan hipotesis | Gunakan tabel Paired Samples Test |
| Menggunakan Sig. pada tabel Correlations | Gunakan Sig. (2-tailed) pada tabel Paired Samples Test |
| Menganggap Mean Difference negatif berarti hasil buruk | Nilai negatif hanya dipengaruhi urutan variabel |
| Tidak melakukan uji normalitas pada selisih skor | Periksa asumsi sebelum menjalankan uji t |
| Menyimpulkan "tidak ada pengaruh" hanya dari rata-rata | Keputusan harus berdasarkan hasil uji statistik |
| Menuliskan p = 0,000 | Gunakan format p < 0,001 sesuai praktik pelaporan ilmiah |
Tips Praktis Agar Tidak Salah Interpretasi
Gunakan urutan berikut setiap kali membaca output SPSS:
- Pastikan asumsi uji telah terpenuhi.
- Lihat Paired Samples Statistics untuk mengetahui gambaran rata-rata.
- Jangan mengambil keputusan dari tabel Correlations.
- Fokus pada Paired Samples Test.
- Periksa nilai Sig. (2-tailed).
- Bandingkan dengan taraf signifikansi (misalnya α = 0,05)
- Susun kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penelitian.
- Jika diperlukan, laporkan juga ukuran efek (effect size) untuk menunjukkan besar kecilnya perubahan, bukan hanya signifikansinya
